Follower

Sabtu, 25 Agustus 2012

REFORMASI GEREJA OLEH MARTIN LUTHER


Pendahuluan
            Reformasi gereja bukan merupakan hal yang baru lagi dalam lingkungan Kristiani terlebih ddalam kalangan Kristen Protestan. Bila berbicara tentang reformasi maka tidak akan terlepas dari pengaruh Renaisanns (abad pencerahan) dan humanisme yang terjadi di Eropa. Keduanya memberi aspirasi baru bagi kehidupan manusia hingga saat sekarang.
Renaisanns yang terjadi pada akhir abad 14-17 dan puncaknya pada tahun 1500 telah membawa banyak perubahan dalam kehidupan manusia. Manusia mulai melihat kembali siapakah dia yang sebenarnya, sehingga manusia mulai keluar dari kehidupannya yang sebelumnya. Pada masa ini juga mulai muncul bahasa Jerman (bahasa nasional). Ada beberapa penyebab berkembangnya Renaissans ini, yaitu
1.      Asimilasi pengetahuan dan kebudayaan Yunani dan Arab
2.      Struktur sosial dan politik Italia bukan sebagai suatu kesatuan politik lagi melainkan negara-negara kecil dan wilayah yang memiliki kebebasan politik, dan
3.      Kematian hitam, dimana orang mulai tidak percaya pada agama sehingga ilmu pengetahuan mulai dikembangkan di Eropa.
Reinassans mempengaruhi reformasi karena pada zaman renaissans mulai muncul percetakan-percetakan yang membantu para reformator.
Humanisme merupakan aliran yang bertujuan untuk menghidupkan rasa peri kemanusiaan dan mencita-citakan pergaulan hidup yang baik, sehingga menganggap manusia sebagai obyek studi terpenting. Humanisme juga merupakan perkembangan dari Reinassans atau cabang dari Renaissans. humanisme memberi perhatian pada masalah-masalah dan nilai-nilai yang menjadi prinsip bagi kehidupan bersama umat manusia. Yang diutamakan pada humanisme adalah kebahagiaan setiap individu. kebahagiaan setiap individu merupakan nilai yang paling tinggi. Prinsip-prinsip humanisme ini pula yang mempengaruhi akan reformator sehingga mereka pun melakukan reformasi terhadap gereja.
            Reformasi itu sendiri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah perubahan radikal untuk perbaikan dalam suatu masyarakat atau agama, baik itu dalam bidang politik, sosial, maupun agama. Istilah reformasi secara langsung memberikan kesan bahwa kekristenan Eropa Barat sedang diperbaharui. Namun Reformasi gereja yang dimaksud pada awalnya merupakan suatu gerakan yang ingin memperbaiki hal-hal tertentu saja dalam Gereja Katolik.[1] Oleh karena keinginan yang begitu besar untuk memperbaiki akan hal-hal yang dianggap   salah dalam gereja, maka muncullah tokoh-tokoh reformator, seperti Marthin Luther dan Yohanes Calvin. Namun sebelum kedua tokoh ini sudah ada dua tokoh yang terlebih dahulu ingin merubah beberapa hal dalam gereja. kedua tokoh itu adalah John Wicliff dari Inggris (1328-1384) dan John Huss dari Ceko (1369-1415). Namun kedua tokoh ini tidak berhasil dalam melakukan perubahan dalam gereja karena tidak mendapat dukungan dari siapapun. Perjuangan mereka dilanjutkan oleh Marthin Luther dan Yohanis Calvin. Namun yang dibahas dalam paper ini merupakan reformasi yang dilakukan oleh Marthin Luther.

Latar Belakang Reformasi
            Reformasi gereja yang terjadi di Eropa Barat tidak dapat terlepas dari keadaan masyarakat Eropa Barat dan organisasi gereja-gereja yang ada pada saat itu. Dalam struktur hierarki gereja, hierarki paling tinggi adalah Paus yang berdomisili di Basilica St. Petrus (Roma). Oleh karena itu, Paus memiliki wewenang yang begitu besar dalam gereja namun wibawanya mulai berkurang. Paus yang ingin menyatukan seluruh orang Kristen dibawah kepemimpinannya pun mulai pudar.  Setiap raja-raja dan kaisar-kaisar ingin menguasai daerah pemerintahannya sendiri, begitupun gereja-gerja yang ada dalam wilayah kepemimpinannya. Pada saat itu pula perekonomian di Eropa sedang mengalami perkembangan yang begitu pesat sehingga sistem sosial yang ada sebelumnya tidak cocok lagi dengan kenyataan yang ada pada saat itu.[2] Oleh karena perkembangan ini, masyarakat mulai kritis pada keadaan yang ada dan berlaku dalam masyarakat. Gereja menjadi sasaran empuk yang dikritisi oleh masyarakat karena gereja merupakan salah satu tiang penyangga bagi masyarakat pada saat itu. Selain itu, dalam kebudayaan Eropa secara umum mulai muncul keinginan  untuk mempelajari akan kebudayaan Yunani dan Romawi sehingga orang-orang ingin kembali pada dunia kebudayaan kuno mereka.  Sikap ini juga yang mempengaruhi akan munculnya reformasi karena mereka terdorong untuk mempelajari Alkitab dalam bahasa asli karena sebelum munculnya perkembangan ini, masyarakat hanyalah robot yang diperintahkan oleh para rohaniawan karena Alkitab yang digunakan pada saat itu berbahasa Latin sehingga yang mengerti akan isi Alkitab itu hanyalah Paus dan rohaniawan. Oleh karena itu, banyak jemaat yang sudah bosan dengan kaum rohaniawan yang hanya mementingkan akan kepentingan mereka sendiri tanpa mau memperhatikan akan jemaatnya.
            Selain krisis kepausan yang melatar belakangi munculnya reformasi, ternyata pada saat itu, muncul pula krisis rohani di tengah jemaat. Banyak orang mencari pengalaman yang bersifat mistik. Namun ada juga (khususnya rakyat sederhana) yang menyatakan kesalehannya dengan hal-hal yang berbau lahiriah seperti penghormatan kepada santo dan santa, berziarah ke tempat-tempat yang dianggap kudus dan juga mengadakan misa bagi orang-orang yang telah meninggal.[3] Karena pernyataan kesalehan yang seperti ini, banyak orang yang berpendidikan menganggap itu sebagai ketakhayulan. Gereja pun tidak mampu menjawab akan kebangkitan rohani yang terjadi dalam Gereja. Gereja sibuk memikirkan akan hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan rohani jemaat. Gereja hanya memikirkan akn  teologi-teologi yang berkembang pada saat itu, terjebak dalam diskusi-diskusi skolastik. Selain itu, pelayan-pelayan dan pemimpin-pemimpin gereja hanya mementingkan akan hal-hal yang bersifat organisatoris saja. Oleh karena itu, jemaat menganggap bahwa organisasi merupakan penghalang bagi pertumbuhan rohani jemaat, sehingga banyak orang (jemaat) merindukan akan gereja yang mementingkan akan Iman Kristen yang sesuai dengan Alkitab, seperti pada masa para Rasul dan juga tulisan-tulisan bapa-bapa kuno, seperti tulisan dari St. Augustinus.
            Karena sifat mementingkan diri dari para pemimpin dan pelayan Gereja, maka tampillah tokoh reformator (Martin Luther) yang ingin merubah akan sistem yang ada dalam gereja secara  radikal untuk merubah sistem-sistem yang salah dalam gereja

Martin Luther
            Martin Luther berasal dari keluarga sederhana, yaitu keluarga petani yang tinggal di negeri Thüringen. Namun karena menginginkan penghidupan yang lebih layak orang tuanya pindah ke Eisleben dan menjadi penggali tambang tembaga di sana.[4] Ayahnya bernama Hans Luther dan ibunya bernama Magdalena Lindemann. Martin Luther lahir pada tanggal 10 November 1483 dan pada keesokan harinya ia dibaptis di gereja Petrus dan ia diberi nama sesuai dengan nama Santo pada saat itu yaitu St. Martinus dari Tours, sehingga ia diberi nama Martin. Martin Luther dididik menurut cita-cita agama zamannya karena orang tuanya pun dikenal sebagai keluarga yang setia pada gereja Katolik Roma. Karena didikan yang sedemikian rupa pula yang membuat Luther ketakutan bila mendengar nama Kristus karena dia memandang Kristus sebagai seorang hakim yang keras dan pemurka.[5]                               
            Martin Luther dikenal sebagai murid yang pandai. Oleh karena itu, ayahnya mengirimnya ke sekolah menengah di kota Magdeburg untuk mendapat pendidikan yang baik. Luther dan teman-temannya memiliki kebiasaan menyanyi di lorong-lorong kota untuk mencari nafkah. Oleh karena sering menyanyi itu pun sehingga Luther dikenal sebagai seorang yang berbakat dalam bidang musik. Pada umur 17 tahun Luther lulus pada sekolah menengah dan memasuki universitas di Erfurt. Ayahnya sangat menginginkan Luther menjadi seorang ahli hokum. Oleh karena itu, Luther perlu mempelajari ilmu filsafat terlebih dahulu. Karena mempelajari ilmu filsafat, Luther pun harus mempelajari theology scholastic, yang pada saat itu masih menguasai universitas di Erfurt. Namun filsafat dan teologi skolastik tersebut dibuangnya namun pandangan Occam mempengaruhi akan pikirannya dalam beberapa hal.
            Pada tahun 1505, Martin Luther lulus dalam ujian dengan gelar magister artes sehingga ia diperbolehkan untuk menuntut ilmu hukum, namun secara tiba-tiba terjadi perubahan besar dalam diri Luther. Dalam perjalanannya menuju rumah orang tuanya, ia ditimpa hujan deras dan disertai guruh dan halilintar yang membuatnya sangat ketakutan. Ia pun meminta kepada St. Anna[6] untuk menolongnya dengan memberikan janji bahwa ia akan menjadi rahib. Luther memang menepati janjinya. Dua minggu kemudian ia masuk biara yang memiliki aturan yang begitu keras, yaitu ordo Eremit Augustin. Keinginan Martin untuk menjadi rahib sangat membuat ayahnya terpukul dan kecewa. Teman-temannya pun tidak menyetujui ia menjadi rahib karena mereka akan kehilangan seseorang yang berbakat dalam musik. Ayahnya sangat marah terhadapnya karena ia tidak mengabulkan permintaan ayahnya supaya ia menjadi ahli hukum. Namun Martin tetap mempertahankan akan niatnya karena dalam pikiran Martin, jika seseorang ingin mengorbankan sesuatu untuk Allah maka ia harus mengorbankan sesuatu yang paling indah dan molek bagiNya.[7] Selama 16 tahun ia tidak berhubungan dengan ayahnya karena ayahnya masih marah dan kecewa terhadapnya. Namun pada akhirnya pula konflik diantara mereka bias dipadamkan. Nazarnya yang hanya sesaat itu boleh dikatakan sebagai pengalaman batinnya. Dalam biaranya ia berharap mendapat damai bagi jiwanya yang takut akan maut dan neraka karena itulah hal yang selalu dicari-carinya.
Dalam biara Augustin itu, Martin dikenal paling cakap diantara rahib-rahib yang seangkatan dengannya. Para pemimpin-pemimpin biara Augustin pun menyuruhnya untuk menuntut ilmu teologi. Sehingga pada tahun 1507 ia ditahbiskan menjadi imam dan pada tahun berikutnya ia dikirim ke Wittenberg untuk meneruskan akan studinya, yaitu studi teologi. Namun pada tahun ia kembali ke Erfurt untuk memberikan pelajaran tentang dogmatik di situ.
Pada tahun 1510 Luther dikirim ke Roma sebagai utusan dari ordo Augustin untuk memecahkan persoalan mengenai aturan-aturan dalam ordo Augustin itu. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Martin karena ia berpikir bahwa ketenangan batin yang selam ini ia cari akan ia dapatkan di sana, mengingat Roma merupakan pusat agama Kristen pada waktu itu.  Karena keinginannya yang begitu besar untuk mencari kedamaian baginya, maka ia pun mengikuti setiap ritual suci di Gereja St. Petrus. Ia pun menaiki setiap tangga gereja dengan lututnya dan berdoa Bapa Kami untuk para nenek moyangnya yang telah meninggal. Doa ini menurut aturan pada saat itu adalah untuk melepaskan mereka dari siksa yang masih dialaminya di dunia seberang sana. Namun ketika ia menaiki anak tangga yang terakhir, ia mempertanyakan akan tindakan yang ia lakukan itu. Benar atau salahkah. Akhirnya ia pun mengambil suatu kesimpulan bahwa surat Penghapusan Siksa di Purgatoriumlah yang merajai jemaat pada saat itu dan bukan bagaimana mengalami anugerah Allah.[8]
Kembalinya ke Wittenberg, dua tahun kemudian ia mencapai gelar “doctor dalam Kitab Suci” dan diangkat menjadi guru besar dalam ilmu teologi di Wittenberg. Tugas utamanya adalah menafsirkan Alkitab, dan sampai pada tahun 1517 ia menafsirkan Kitab Mazmur dan surat-surat Paulus, seperti Roma, Galatia dan Ibrani. Pada saat itu juga ia mengepalai akan kesebelas biara propinsinya dan harus berkhotbah dan melayani jemaat di Wittenberg.
           


Ketakutan Menjadi Motivasi
Walaupun telah menjadi mencapai kemajuan yang gemilang, telah menjadi seorang professor, namun kegalauan hatinya akan ketakutannya pada maut dan api neraka. Ia ingin selamat dari hari kiamat itu namun ia tak tahu bagaimana menyelamatkan dirinya. Berbagai cara ia lakukan untuk melepaskan jiwanya dari ketakutan yang selama ini mencekamnya. Ia berusaha dan bersungguh-sungguh melakukan amal di dunia seperti yang dilakukan oleh orang-orang lainnya. Mengikuti segala cara yang diperintahkan oleh gereja. Ia tak kenal lelah berpuasa, berjaga-jaga pada waktu malam,  sering mengaku dosa dan menerima sakramen Misa. Oleh karena begitu rajinnya ia melakukan akan titah gereja, maka di mata teman-temannya, Lutherah yang paling saleh, rajin dan beramal di dalam biara itu. Namun, walaupun segala cara telah ia lakukan, segala aturan dan segala yang diperintahkan gereja telah dilakukannya, namun ia belum juga mendapatkan damai dan kententraman bagi jiwanya. Luther malah merasa ia semakin jauh dari rahmat Allah karena ia mengerti bahwa segala perbuatan manusia meski sangat baik dan saleh sekalipun, tidak berharga di hadapan Tuhan. Luther tidak percaya lagi bahwa setiap dosa manusia dihitung dalam buku kas Sorgawi. Lutherpun insaf. Ia kemudian berpikir dan menganalogikan dirinya seperti pohon. Jika mengharapkan sesuatu yang baik dari pohon itu, maka terlebih dahulu harus melihat apakah pohon itu baik atau tidak. Luther menyadari bahwa mustahil ia akan mendapat damai dan ketentraman bagi dirinya karena ia tahu bahwa semua yang dilakukannya tidak benar-benar dari hatinya yang palin dalam, tidak benar-benar tulus. Ia menyadari bahwa selama ini ia mementingkan akan dirinya sendiri. Ia mencari keselamatan untuk dirinya sendiri dan bukan untuk kehormatan dan kemuliaan nama Allah. Makin besar usaha Luther untuk menyucikan dirinya, makin sadar pulalah ia bahwa ia semakin menuju ke dalam kebinasaan. Allah yang rahmani yang dicarinya semakin jauh saja dirasakannya, sehingga ia mulai putus asa.
            Terkadang hatinya terhibur bila ia bercakap-cakap dengan pemimpin biaranya, Johan von Staupitz. Johan menasehatinya agar percaya kepada rahmat Kristus dan memandang luka-luka yang dialami oleh sang Juruselamat. Menurut Staupitz lebih baik seperti itu dari pada merenungkan apakah kita terpilih menjadi orang yang diselamatkan atau tidak karena barangsiapa yang percaya pada Kristus, ia dapat yakin bahwa ia telah dipilih.[9] Nasehat-nasehat dari Staupitz cukup menghiburkan hatinya namun tetap tidak dapat melenyapkan keresahan dalam hatinya karena semuanya itu berdasarkan sakramen-sakramen Gereja dan amal serta jasa manusia saja.
            Akhirnya, segala kegalauan dalam hatinyapun dapat terobati dari Firman Tuhan sendiri (Alkitab). Dalam keputus asaanya itu ia meneukan dalam surat Roma 1: 17 tentang tafsiran baru mengenai “keadilan Allah” (iustitia Dei) yang merupakan istilah yang menjadi kunci dalam ajaran mengenai pembenaran manusia (iustificatio).[10] Pada awalnya Luther tidak mengerti akan maksud dari Roma 1: 17 yang berbunyi : “Sebab di dalamnya (Injil) nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman, seperti ada tertulis :orang benar akan hidup oleh iman.” Siang dan malam Luther menggumuli akan maksud Paulus menulis seperti itu. Apa hubungan antara kebenaran dan iman kita. Akhirnya dengan tiba-tiba, terlintaslah pikiran terang kepadanya, ketika ia duduk merenung di menara biaranya (Turmerlebnis). Luther menyadari bahwa kebenaran Allah itu tidak lain dari pada suatu pemberian yang dianugerahkanNya kepada manusia untuk memberi hidup yang kekal kepadanya; dan pemberian itu harus disambut dengan iman yang tulus. Dengan kata lain, kebenaran yang dimaksudkan Paulus dikaruniakan Allah adalah kemenangan yang dialami Yesus dari salib dan kebangkitanNya. Lutherpun akhirnya mulai mendapatkan akan kedamaian dan kententraman yang selama ini dicari-carinya. Hal ini terjadi sekitar tahun 1514.
            Segera pandangan-pandangan yang mengherankan itu mulai tersebar di Wittenberg. Skolastik dan Aristoteles mulai ditolak oleh orang-orang. Alkitab dan teologia Agustinus menjadi hal yang asyik untuk dipelajari Luther, serta diuraikannya dalam kuliahnya. Banyak pandangan-pandangan baru yang didapatnya dari kitab-kitab Agustinus. [11]
Luther tidak menyadari bahwa penemuan dan pertemuannya itu akan menimbulkan suatu reformasi dalam gereja. Cukup bagi Luther untuk membentangkan Injil yang telah menolongnya dalam khotbah dan pengajarannya. Walaupun awalnya Luther tidak ingin memperbaharui gereja, namun kenyataan yang terjadi membuatnya harus melakukan reformasi. Penemuan ini yang nanti akan meledak dan meruntuhkan susunan gereja

Indulgensia
            Awal timbulnya reformasi gereja adalah perbedaan antara teologi dan praktek gereja dengan ajaran Alkitab seperti yang ditemukan oleh Luther. Namun  pemimpin-pemimpin gereja pusat tidak menyadari akan bahaya yang mengancamnya. Paus Leo X dan tokoh-tokoh gereja lainnya sibuk memikirkan akan pembangunan gereja raksasa, yaitu gereja Santo Petrus di Roma, yang melambangkan keagungan Gereja Barat. Lalu Paus pun menyarankan kepada Uskup Agung Albrecht dari Mainz untuk memperdagangkan surat penghapusan dosa secara besar-besaran di Jerman.[12] Perdagangan Indulgensia dengan maksud “tertentu” ini tidak diketahui oleh umat Kristen dan Luther pun tidak mengetahuinya. Namun cara menjalankannya menimbulkan suatu kecurigaan tersendiri. Surat kuasa yang diberikan Albrecht kepada para penjual menimbulkan sangkaan bahwa surat penghapusan siksa itu juga dapat menebus dosa.
            Johan Tetzel, seorang Dominician merupakan kepala penjualan indulgensia ini. Tetzel melakukan propaganda besar-besaran yang mengosongkan dompet rakyat Jerman untuk mengisi kantong Albrecht dan Leo X. Syarat indulgensia yaitu penyesalan yang sungguh-sungguh tidak disebut lagi. Para pembeli mengaku dosa pada rahib-rahib yang tidak mereka kenal. Rahib-rahib ini membantu Tetzel dalam melancarkan akan penjualan indulgensia itu. Tetzel memperdaya masyarakat bahwa indulgensia selain mengahapus dosa pembeli juga dapat melepaskan akan keluarganya dari api penyiksaan di alam seberang. Kata-kata Tetzel yang melegenda berbunyi : “As soon as the money jingles in the chest, the soul springs out of  Purgatory”. [13] Jadi begitu koin masuk dalam peti sumbangan, jiwa mereka akan keluar dari azab Api Penyucian.
            Bereaksi pada penyalahgunaan indulgensi itu, Luther pada vigili hari raya semua orang kudus (31 Oktober 1517) mengirimkan 95 dalil pada beberapa uskup dalam bahasa Latin tentang tesis-tesis mengenai indulgensia. Karena tidak ada respon balik dari para uskup maka Lutherpun mengirimkan 95 dalil itu kepada teolog-teolog. Indulgensia hanya merupakan silih humum kanonik, yang ditanggungkan gereja dan bukan merupakan sesuatu yang diperhatikan di dunia sana, tidak dapat diaplikasikan kepada para arwah. Dalam waktu singkat, penjualan indulgensia itupun kehilangan untung besar. Hal ini menimbulkan kemarahan besar bagi Albrecht dan banyak orang lainnya yang terkait dengan penjualan indulgensia itu. Luther dituduh sebagai seorang penyesat.

Reaksi Hierarki Gereja Roma
            Beredarnya tesis-tesis tentang indulgensia itu membuat Paus merasa terusik. Awalnya ia tidak memperhatikan hal itu. Ia hanya menganggap bahwa hal itu hanya pertengkaran diantara para rahib saja. Iapun meminta Luther untuk memungkiri akan pandangan-pandangannya yang sesat itu, tetapi Luther tetap berdiri pada tempatnya. Luther menjelaskan akan dalil-dalilnya kepada paus dalam sepucuk surat. Paus meminta Luther untuk menghadap kepausan dalam tempo 60 hari.[14] Namun Friederich “yang bijaksana” meminta agar Luther didispensasi untuk hadir di Roma; dan cukuplah ia diinterogasi di Augsburg oleh Kardinal Thomas de Vio. Paus tidak berani melawan permintaan Friederich karena ia ingin mecalonkan Friederich pada pemilihan kaisar pada tahun 1519, karena pencalonan Karel V dari Spanyol tidak disetujuinya.  Namun proses interegosai yang dilakukan oleh Thomas de Vio (Cajetanus) tidak mebuahkan hasil karena Luther tetap pada pendiriannya dan tidak mau menarik dalil-dalil yang telah dikeluarkannya. Luther meminta agar ia diadili oleh Paus sendiri atau mengadakan konsili untuk menimbang dan memutuskan akan perkaranya.
            Kemudian pada bulan Juni 1519 terjadi perdebatan yang sengit antara Luther dan Johan Eck (guru besar di kota Ingolstad, Bavaria) di Leipzig. Walaupun Eck tidak berhasil membuat Luther meninggalkan akan ajarannya, namun berhasil menjelaskan untuk pertama kalinya kepada publik doktrin tentang primat dan infalibilitas konsili-konsili. Namun sebenarnya yang beruntung adalah Luther karena dari perdebatan ini ia menyadari bahwa hanyalah Alkitab yang menjadi ukuran dan patokan dan bukan paus ataupun konsili. Hanyalah Firman Tuhan yang berkuasa atas orang beriman. Setelah perdebatan sengit itu, Eck pun beranjak ke Roma untuk membantu mempersiapkan kecaman terhadap Luther.
            Pada tanggal 15 Juni 1520, Paus Leo X mengeluarkan bulla Exsurge Domine (Bangkitlah Tuhan), yang menutup proses terhadap Luther. Bulla ini mengecam 41 tesis yang ditarik dari ajaran-ajaran Luther. Eck dan Duta Besar, Aleander yang bertanggung jawab atas penyebaran bulla itu. Mereka mendesak Luther untuk menarik ajarannya itu dalam 2 bulan. Mengikuti desakan mereka berarti ia harus menarik ajarannya yang telah tersebar luas. Lagi pula sudah banyak barisan di belakang Luther dan bahkan Sylvester von Schaumburg menawarkan pada Luther perlindungan berkekuatan 100 bangsawan Frankonian; Franz von Sickengen dan Ulrich Hutten, yang menjunjung Luther setinggi langit sebagai : “Pemerdeka Jerman.”[15]    
            Pada tahun 1520, Luther menerbitkan buku “An den christlichen Adel deutscher Nation ( Kepada Bangsawan Kristen Bangsa Jerman). Buku ini dikhususkan untuk orang Jerman. Dalam buku ini Luther ingin merobohkan akan 3 (tiga) tembok yang memungkinkan gereja Roma bertahan. Tembok pertama adalah perbedaan antara imam (kekuasaan spiritual) dan awam (kekuasaan duniawi). Tembok yang kedua adalah hak istimewa hierarki untuk menafsirkan Kitab Suci. Tembok yang ketiga adalah previlese paus untuk memanggil konsili.
            Kemudian Luther menulis buku “De captivitate babylonica ecclesiae praeludium (Perihal Malapetaka Pembuangan Babilonia Gereja). Buku ini bertujuan untuk menghancurkan doktin-doktrin gereja mengenai sakramen. Luther tetap mempertahankan sakramen Baptis dan Ekaristi, sambil menyangkal transubstansiasi dan makna kurban Ekaristi. Dalam De libertate Christiana (Tentang Kebebasan Kristen), Luther menyanjung akan kebebasan (batin) manusia yang dibenarkan oleh karena iman dan kesatuan dengan Kristus.[16] Bagi Luther tindakan baik itu tidak bermanfaat sama sekali untuk pembenaran. Tetapi tindakan baik itu wajib dilakukan karena manusia telah dibenarkan oleh iman.
            Setelah melewati batas waktu yang ditentukan dari penetapan Exsurge Domine, Melanchton[17] bersama mahasiswa di Wittenberg ke lembah Sungai Elbe untuk melakukan ritus pembakaran teks-teks hukum dan skolastik klasik serta buku-buku Eck. Luther sendiri membakar Exsurge Domine, dan sebuah salinan Kitab Hukum Kanonik, dasar yuridis bagi corpus Christianorum Abad Pertengahan. Dua hari berturut-turut mereka berdemonstarsi melawan paus. Pemimpin Gereja Roma telah kelabakan dalam mengatasi Luther dan para pendukungnya dan tidak tahu lagi bagaimana cara mempertahankan kekuasaannya di Jerman tanpa dipermulakan. Akhirnya pada tanggal 3 Januari 1521, dikeluarkanlah bulla Decet Romanum Pontificem yang mengekskomunikasikan Luther dan para pendukungnya.
             Popularitas Luther makin teruji. Di setiap toko-toko buku di Worms berisikan buku-buku Martin Luther. Parlemen Worms akhirnya memutuskan utnuk mengusir Luther dan para pengikutnya dari kekaisaran; buku-bukunya dianggap sebagai bidah dan harus dimusnahkan; penyebaraluasa doktrin Luther dilarang; siapa saja yang berkomunikasi dengan Luther maka ia akan ditangkap dan harta kekayaannya akan disita.
            Dalam perjalannya kembali ke Wittenberg, Luther “diculik” oleh pasukan berkuda atas suruhan Friederich dari Saxonia dan mengamankannya di Kastel Wartburg. Selama satu tahun (awal Mei 1521 hingga awal Maret 1522) Luther tinggal di kastel itu dan memakai nama samaran Junker Georg. Dalam kastel ini, Luther merasa aman. Aktivitas sehari-harinya adalah menerjemahkan Alkitab dari bahasa aslinya yaitu Ibrani dan Yunani ke bahasa Jerman. Ia selesai menerjemakan Alkitab dalam waktu 3 bulan dan dicetak di Wittenberg pada September 1522 sehingga disebut September Testament. Cetakan pertama terjual 3000 ekslempar dan cetakan keduanya pada bulan Desember dan disebut December Testament. Luther berusaha supaya terjemhan itu sedekat mungkin dengan teks aslinya. Terjemahan tersebut membawa perubahan positif di Jerman khususnya bagi perkembangan bahasa Jerman dan nasionalisme. Pada tahun 1534 berhasil menerjemahkan seluruh Alkitab. Luther juga menulis beberapa buku sekunder , misalnya Komentar Tentang Paulus, Surat-surat Paulus, Bacaan-bacaan Dalam Perjamuan Tuhan, Argumen-argumen Melawan Bulla Ekskomunikasi. Dan sebagai tanda terimakasihnya kepada Friederich karena telah menculiknya setelah ekskomunikasi kepausan dijatuhkan, ia menulis sebuah buku Magnificat verdeutschet und ausgelegt (1521).  
           
Refleksi Teologi

Alkitab merupakan nama bagi kumpulan kitab-kitab yang diakui sebagai Firman Allah dan juga sebagai kanonik. Alkitab dalam agama Kristen sangatlah diagung-agungkan karena Alkitab dianggap sebagai Firman Allah yang secara langsung diberikan Allah kepada manusia. Oleh karena pemikiran demikian, maka orang seringkali salah menafsirkan akan isi Kitab Suci. Orang beranggapan bahwa apabila melakukan tindakan-tindakan yang sesuai dengan apa yang tertulis dalam Alkitab maka kita telah melakukan apa yang diinginkan oleh Tuhan. Orang tidak pernah menganggap bahwa Alkitab adalah tulisan-tulisan yang yang ditulis oleh manusia biasa yang disesuaikan dengan konteks jemaat pada saat itu. Misalnya saja dalam Efesus 5: 22-24 dimana di dalam ayat ini dikatakan bahwa seorang istri harus tunduk pada suaminya. Karena tidak menyesuaikan dengan konteks jemaat Efesus pada saat itu, maka banyak isteri-isterpun tunduk pada perintah suaminya tanpa melihat apakah perintah itu berakibat baik atau buruk. Karena salah penafsiran pula, seringkali terjadi kekerasan dalam rumah tangga dimana suami menindas isterinya. Isteri hanya meneima apa yang diperlakukan suaminya terhadapnya tanpa menuntut keadilan sedikitpun. Selain dalam keluarga, ada beberapa gereja yang tidak menerima pendeta perempuan karena salah menafsirkan ayat yang mengatakan bahwa perempuan harus diam dalam suatu pertemuan.
Memang tidak salah bila menjadikan Alkitab sebagai penuntun dalam pedoman dan tolak ukur kita dalam menjalani kehidupan didunia ini, tetapi bagaimana menyesuaikan akan isi Alkitab dengan konteks yang ada pada saat ini sehingga tidak terjadi salah interpretasi terhadap Alkitab. Karena ketika terjadi salah interpretasi terhadap Alkitab, maka akan terjadi salah interpretasi juga pada sifat Allah. Bisa saja Allah dianggap sebagai Allah yang kejam dan tidak adil karena lebih mengutamakan laki-laki dari pada perempuan. Jadi pemakaian Alkitab harus disesuaikan dengan konteks dimana Alkitab itu akan diberitakan.
Daftar Pustaka

Drewes, B. F, Apa Itu Teologi, BPK Gunung Mulia. 2007

End, Th. van den, Harta Dalam Bejana. BPK Gunung Mulia. 2009

Jounge, Christian de, Gereja Mencari Jawab. BPK Gunung Mulia. 1993.

Berkhof, H, Sejarah Gereja. BPK Gunung Mulia. 2009

Boehlke, Robert R, Sejarah Perkembangan Pikiran dan Praktek Pendidikan Agama Kristen. BPK Gunung Mulia. 1997

Collins, Michael & Matthew A. Price, The Story of Christianity. Kanisius. 1999

Kristiyanto, Eddy A, OFM, Sejarah Pustaka Reformasi dari Dalam, Sejarah Gereja Zaman Modern. Kanisius. 2004

Lane, Tony, Runtut Pijar. BPK Gunung Mulia. 1990

Edwards, Mark U, Jr, Luther’s Last Battles. Tuta Sub Aegide Pallas. 1983


[1] Drewes, B. F. dan J. Mojau, Apa itu Teologi. 2007 . p 45 
[2] End, Th. van den , Harta Dalam Bejana, 2009. p 152
[3] Jounge Christiaan de,  Gereja Mencari Jawab. 1993 p 23
[4] Berkhof, H, Sejarah Gereja. 2009. p. 120
[5] End, Th. van den , Harta Dalam Bejana, 2009. p 153
[6] St Anna dikenal sebagai St pelindung bagi mereka yang bepergian
[7] Boehlke, Robert R. Sejarah Perkembangan Pikiran dan Praktek Pendidikan Agama Kristen I. 1997. p 309
[8] Ibid. p 311
[9] Berkhof, H, Sejarah Gereja. 2009. p 124
[10] De Jounge Christiaan,  Gereja Mencari Jawab. 1993. p 26
[11] Ia mendapat ide-ide yang sama dalam karangan Agustinus (Roh dan Huruf)
[12] Penjualan indulgensia ini adalah untuk melunasi hutang Uskup Agung Albrecht pada Fugger dan untuk membangun Gereja St. Petrus.
[13] Collins, Michael & Matthew A. Price, The Story of Christianity. 1999. p 132
[14] Edwards, Mark U, Jr. Luther’s Last Battles. 1983. p 70
[15] Kristiyanto, Eddy A, OFM. Sejarah Pustaka Reformasi dari Dalam, Sejarah Gereja Zaman Modern. 2004. p 60
[16] Lane, Tony. Runtut Pijar. 1990. p 132
[17] Salah seorang humanis dan juga rekan Luther di Wittenberg