Follower

Minggu, 20 Mei 2012

Tafsir: Kitab Ibrani Pasal 8:1-6



Imam Semu vs Imam Sejati

Pendahuluan
Kitab ibrani merupakan salah satu kitab yang bersifat kompleks. Hal ini terlihat dari tidak adanya kepastian akan siapa dan untuk siapa kitab ini ditulis. Bentuk dari kitab ini pun dipertentangkan juga. Ada yang mengatakan bahwa kitab ini berbentuk surat dan ada yang mengatakan berbentuk khotbah. Namun, jika dikatakan berbentuk surat, kitab ini tidak diawali dengan sebuah pembukaan. Terkadang diusulkan bahwa bentuk kitab Ibrani adalah salah satu bentuk surat di daerah Timur Dekat yang merupakan perkembangan dari berita lisan dimana seorang utusan mengungkapkan salamnya dan setelah itu menyampaikan isi pesan,[1] sehingga masalah tidak adanya pembukaan pada kitab tersebut bukanlah sebuah masalah. Namun jika dilihat keseluruhan dari kitab Ibrani (Ibr 1:1-13:21) menunjukkan bahwa tidak ada ciri apapun yang menunjukan bahwa kitab ini adalah sebuah surat karena gambaran yang ditimbulkan adalah lebih ke arah risalat. Tetapi karena gaya, alur berpikirnya bersifat keagamaan maka kitab ini lebih merujuk kepada khotbah. Hal ini terlihat dari keteraturan retorika yang digunakan oleh pengarang dengan mengikuti aturan-aturan retorika di dalam sinagoge. Namun, pada 13: 22-25 tidak ditemukan suatu bentuk khotbah tetapi lebih berbentuk surat karena penulis mengungkapkan diri dalm bentuk tunggal dan bukan dalm bentuk jamak. Penggunaan kata ganti ‘aku’ mmerupakan salah satu ciri-ciri surat namun jika bentuknya berupa khotbah lebih kepada kata ganti jamak ‘kami’. Vanhoye mengatakan bahwa ayat tersebut diatas ditambahkan oleh seseorang dan ayat ini merupakan catatan-catatan pendek yang ditambahkan kepada pada khotbah tersebut ketika diputuskan agar khotbah tersebut dikirimkan ke suatu jemaat.[2] Namun pendapat ini belum bisa dipastikan karena belum diketahui apakah pengarang khotbah tersebut juga merupakan pengarang penutup kitab Ibrani tersebut. Ada kemungkinan bahwa salah seorang penilik telah menambahkan pesan pribadi pada homili yang disalinnya dan ia tidak dapat di gereja dan sulit untuk dikatakan apakah khotbah tersebut disampaikan secra lisan atau tidak. (Marxsen, 1968: 218). Jadi, Ibrani 13:22-25 tidak dapat diketahui secara pasti dan hanya bisa bersifat rekaan.
Adapun penulis dari kitab Ibrani ini pun tidak dapat dikatakan dengan pasti siapa karena kitab ini anonim. Banyak nama-nama yang diusulkan oleh penafsir-penafsir mengenai siapa pengarang kitab Ibrani namun tidak ada satu pun yang dapat memenuhi kriteria penulis kitab Ibrani ini. Pada umumnya Pauluslah yang dianggap sebagai penulis kitab Ibrani (kalangan jemaat Kristen) dan juga gereja purba di timur. Namun argumen ini tidak dapat dipertahankan karena watak dari penulis khotbah dalm kitab ini lebih bersifat moderat dan tenang sedangkan rasul Paulus lebih bersifat spontan dan bersemangat. Selain itu, pengarang kitab Ibrani menguraikan khotbahnya dengan sangat teratur dan cerdik sedangkan Paulus tidak terlalu memperhatikan penulisan yang baik dan jika mengembangkan gagasan selalu ada improvisasi.(Vanhoye:1987, 13). Menurut Clement dari Aleksandria kitab Ibrani aslinya menggunakan huruf Ibrani tetapi kemudian diterjemahkan oleh Lukas. (Marxsen,2008:271). Bagi Tertulianus, pengarang kitab Ibrani adalah Barnabas. Nama-nama yang telah disebutkan di atas tidak dapat ditentukan dengan pasti sebagai penulis akan kitab Ibrani ini. Penulis-penulis modern, antara lain Luther, juga mengusulkan salah satu nama, yaitu Apolos yang merupakan orang Yahudi dari Aleksandria. Apolos dikenal sebagai seseorang yang pintar berpidato dan memiliki pengetahuan tentang kitab Suci dan digunakannya untuk pelayanannnya (Kis 18:24-28).[3] Memang pendapat tentang Apolos sebagai penulis kitab Ibrani adalah yang agak mendekati sebagai penulis, namun tetap tidak dapat dipastikan apakah Apolos yang menulis kitab ibrani atau tidak. Pada masa pengkanonisasian Alkitab, kitab Ibrani dianggaplah sebagai kitab yang ditulis oleh Paulus agar dapat masuk dalam kanon.
            Tahun penulisan kitab ini juga tidak dapat ditentukan dengan pasti tetapi yang pasti adalah bahwa surat ini ditulis sebelum tahun 96 M karena Surat 1 Clement mengutip kitab Ibrani yang walaupun tidak secara khusus mengacu pada kitab tersebut. Tetapi tidak dapat mengacu jauh dari tahun 96 M karena pengarang mengacu juga pada penganiayaan-penganiayaan yang terjadi. Di sini terdapat acuan-acuan mengenai ibadah kurban Perjanjian Lama namun tidak mengangkat tentang penghancuran Bait Allah. Oleh karena itu, Vanhoye dengan tegas mengatakan bahwa kitab ini ditulis pada tahun sebelum tahun 70 M dimana Bait Allah dihancurkan.[4] Namun hal ini tidak dapat dikatakan mutlak demikian karena pokok masalah yang diangkat dalam kitab Ibrani adalah mengenai persoalan theologis dan  bukan historis (Marxsen,1968:221-222). Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kitab Ibrani ditulis sebelum tahun 96 M.
Kepada siapa kitab ini ditulis juga tidak dapat dipastikan. Judul yang terkenal adalah Surat kepada Orang Ibrani pada abad ke-2 yang dipercayai bahwa kitab ini ditujukan kepada agama Kristen Yahudi yang masih berada dalam bayang-bayang Perjanjian Lama. Upacara-upacara korban yang dilakukan sangat menyolok dihargai sebagai memiliki pengesahan dan kekuasaan yang datang dari Allah. (Guthrie, 1981:754). Namun, acuan-acuan ini tidak dapat membuktikan bahwa kitab ini dituliskan untuk agama Yahudi karena dalam kitab ini dikatakan bahwa para pembaca belum mengenal akan Kristus (2:3). Kemungkinan berikut yang muncul adalah bahwa para pembacanya beragama Kristen Yahudi tetapi yang dipengaruhi oleh helenistik. Marxen berpendapat bahwa kitab ini bukan ditujukan kepada orang Yahudi ataupun Kristen Yahudi tetapi diperuntukkan untuk agama Kristen pada umumnya.  Memang tujuan dari penulisan akan kitab ini adalah menjawab akan pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam jemaat baik dari kalangan Yahudi, non Yahudi dan Kristen Yahudi mengenai agama Kristen. Pengarang berniat untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dan menguatkan iman jemaat agar tetap setia pada Yesus Kristus sebagai Imam Besar yang sejati.

Bertanya secara Harafiah
             Berhadapan dengan teks Alkitab, seringkali muncul pertanyaan-pertanyaan yang bersifat spontan dalam benak pembaca. Misalnya saja arti kata, maksud dari teks, masalah ketidakkonsistenan pengarang, dan lain sebagainya. Dalam teks Ibrani 8:1-6, banyak pertanyaan-pertanyaan yang akan muncul dalam benak pembaca sebelum melihat buku-buku tafsir. Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan muncul dengan sendirinya ketika membaca teks tersebut. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam teks Ibrani 8:1-6 misalnya sebagai berikut.
Ayat 1: “Inti segala yang kita bicarakan itu ialah: kita mempunyai Imam Besar yang demikian, yang duduk di sebelah kanan takhta Yang Maha besar di sorga
Dalam teksnya dikatakan terdapat suatu inti pembicaraan dan inti tersebut menggunakan kata penunjuk “itu”. Kata “itu” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia bermakna sebagai suatu kata penunjuk bagi suatu benda, waktu atau hal yang jauh. Jadi, kata “itu” di sini menunjukkan bahwa ada sesuatu yang telah dibicarakan sebelumnya. Nah, pertanyaan yang muncul adalah apa inti pembicaraan yang dimaksudkan. Yang pastinya adalah ada kaitannya dengan ayat-ayat sebelumnya. Namun pasal atau ayat yang mana yang dimaksudkan tidak dijelaskan. Memang dikatakan dalam teks bahwa “kita mempunyai Imam Besar yang demikian yang duduk disebelah kanan takhta Yang Maha besar di sorga” merupakan inti dari yang dibicarakan, namun pernyataan ini tidak memastikan inti yang dibicarakan apa. Frase “yang demikian” memunculkan pertanyaan lanjutan dari pertanyaan sebelumnya. Imam Besar yang demikian menunjukkan ada sesuatu hal mengenai Imam Besar itu, entah itu ciri dari Imam Besar atau sifat Imam Besar itu itu sendiri. Pertanyaan lanjutan yang muncul adalah mengenai Imam Besar. Imam Besar yang dimaksudkan disini apakah dalam pengertian Yahudi atau mengacu pada Imam Besar perjanjian lama atau ada pengertian baru mengenai kata ini. Selain itu, Imam Besar yang dimaksudkan dalam ayat ini juga belum diketahui siapa. Namun yang pasti adalah bahwa Imam Besar tersebut memiliki hubungan yang erat dengan yang empunya takhta Maha besar di sorga (Allah). Apakah Imam Besar disini mengarah kepada bapa Abraham yang dikenal juga oleh Kristen dan Yahudi sebagai salah seorang yang dekat dengan Allah dalam sorga. Selain itu, makna “duduk di sebelah kanan” juga tidak diketahui. Apakah berarti Imam Besar tersebut benar-benar duduk di sebelah kanan Allah (secara harafiah) ataukah bersifat metafora saja. Pertanyaan-pertanyaan inilah yang mungkin muncul pertama kali ketika membaca ayat satu ini.
Ayat 2: “dan yang melayani ibadah di tempat kudus, yaitu di dalam kemah sejati, yang didirikan oleh Tuhan dan bukan oleh manusia”.
Teks diatas mengatakan bahwa Imam Besar tersebut melayani ibadah di tempat kudus. Tempat kudus yang dimaksudkan menjadi suatu pertanyaan, apakah tempat kudus tersebut adalah surga atau apakah Bait Allah yang dianggap sebagai tempat kudus yang menjadi tempat sang Imam berkiprah? Belum ada jawaban pasti yang ditunjukkan oleh teks dan ini perlu pengkajian lebih lanjut. Dalam teks dikatakan bahwa tempat kudus tersebut adalah kemah suci yang didirikan oleh Tuhan dan bukan manusia. Kemah suci pun belum dimengerti seperti apa. Jika ditelaah ke perjanjian Lama, kemah suci yang didirikan adalah untuk Tuhan namun bukan buatan Tuhan (dalam hal ini YHWH)  melainkan manusia. Hanya saja kemah suci tersebut merupakan permintaan dari YHWH (Kel 26:1). Bait Allah juga dianggap sebagai kemah suci dalam tradisi Yahudi(Wah 15:5) dan dianggap sebagai “buatan” Allah, namun apakah kemah suci tersebut adalah Bait Allah hanya dapat diterka-terka saja.
Ayat 3: “Sebab setiap Imam Besar ditetapkan untuk mempersembahkan korban dan persembahan dan karena itu Yesus perlu mempunyai sesuatu untuk dipersembahkan”.
Dalam ayat ini dijelaskan bahwa seorang Imam Besar harus memiliki bertugas mempersembahkan korban. Pertanyaan yang muncul adalah apakah makna dari korban tersebut dan mengapa Imam Besar diwajibkan untuk mempersembahkan korban. Seberapa berharganya korban itu sehingga harus dijalankan juga patut dipertanyakan. Dalam teks ini juga secara eksplisit disebutkan bhwa Yesus adalah Imam Besar yang juga harus mempersembahkan korban. Namun korban yang harus dikorbankan oleh Yesus tidak diperjelas apakah itu. Apakah korban yang harus dipersembahkan Yesus adalah korban yang sama dengan yang dipersembahkan oleh Imam Besar lainnya ataukah harus berbeda. Yesus juga dituntut untuk mempersembahkan suatu korban. Selain itu, kesan dari teks tersebut adalah bahwa Yesus belum mempersiapkan suatu korban apapun dan diharapkan agar menyiapkan korban juga.
Ayat 4: “Sekiranya Ia di bumi ini, Ia sama sekali tidak akan menjadi imam, karena di sini telah ada orang-orang yang mempersembahkan persembahan menurut hukum Taurat”.
Dalam ayat ini, Imam Besar tersebut tidak diharapkan untuk menjadi imam di dunia ini. Imam Besar tersebut diharapkan menjadi imam di suatu tempat yang tidak diketahui dimana tempatnya. Apa dan mengapa ia tidak di tempatkan dalam dunia ini juga tidak dikatakan. Alasan yang eksplisit hanyalah bahwa dunia telah memiliki imamnya sendiri dan mengikuti hukum Taurat dalam mempersembahkan korban.  Dari ayat ini, seolah-olah pengarang sepertinya tidak ada harapan bahwa Imam Besar tersebut akan menjadi imam di bumi. Maksud dari pengarang ini sepertinya tidak dapat terbaca dan membuat pembaca bertanya-tanya. Aturan-aturan dalam hukum Taurat mengenai persembahan korban juga dipertanyakan seperti apakah aturan dalam hukum Taurat. Selain itu, Imam di bumi memiliki aturan dalam mempersembahkan korban yaitu mengikuti aturan Taurat dan Yesus yang dianggap sebagai Imam Besar tidak diketahui apa yang menjadi  aturan dalam melakukan korban persembahannya.
Ayat 5: “Pelayanan mereka adalah gambaran dan bayangan dari apa yang ada di sorga, sama seperti yang diberitahukan kepada Musa, ketika ia hendak mendirikan kemah: "Ingatlah," demikian firman-Nya, "bahwa engkau membuat semuanya itu menurut contoh yang telah ditunjukkan kepadamu di atas gunung itu."”
Ayat lima ini sepertinya menghargai akan pelayanan yang dilakukan Imam Besar di bumi karena pelayanan mereka dianggap sebagai pelayanan yang sesuai dengan gambaran dan bayangan yang ada di sorga. Musa diangkat juga oleh pengarang sebagai pembandingan antara apa yang dikatakannya dengan apa yang dikatakan oleh Musa. Sepertinya pengarang ingin memperjelas akan perkataannya dengan memasukkan perkataan Musa dalam karangannya. Sepertinya pengarang juga memiliki hubungan dengan Perjanjian Lama sehingga menghargai akan pelayanan korban yang dilakukan oleh Imam Besar di bumi. Selain itu, pengarang juga setidaknya mengetahui tentang isi perjanjian Lama sehingga kata-kata Musa dapat dipakainya untuk menjelaskan akan apa yang dikatakannya. Pelayanan yang dilakukan oleh Imam Besar di bumi diperbandingkan dengan apa yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang yang tidak diketahui siapa dan bayangan yang di sorga diperbandingkan dengan contoh yang ada di atas gunung.
Ayat 6: “Tetapi sekarang Ia telah mendapat suatu pelayanan yang jauh lebih agung, karena Ia menjadi Pengantara dari perjanjian yang lebih mulia, yang didasarkan atas janji yang lebih tinggi”.
“Ia” telah mendapatkan pelayanan yang jauh lebih agung. Kata “Ia” dalam ayat ini membingungkan. Apakah yang dimaksud dengan “Ia” di sini adalah yang Maha besar di sorga ataukah Imam Besar (Yesus) tidak dapat diketahui. “Ia” mendapat pelayanan yang agung malah membuat pertanyaan-pertanyaan lanjutan yaitu siapakah yang melayani si “Ia” itu. Jika belum diketahui siapakah si “Ia” dalam ayat ini maka akan sulit juga menentukan akan siapa pelayannya. “Ia” dalm teks ini juga dikatakan menjadi pengantara dari perjanjian yang mulia. Sepertinya “Ia” disini merupakan bagian dari suatu perjanjian yang mulia namun tidak diketahui seperti apa perjanjian itu dan juga janji tersebut merupakan janji yang lebih tinggi. Jika janji tersebut merupakan janji yang lebih tinggi, maka konsekuensinya adalah terdapat janji(-janji) yang lebih rendah dari janji yang tinggi itu. Jika perjanjian yang dimaksudkan dalam ayat ini adalah perjanjian baru maka secara tidak langsung dikatakan bahwa perjanjian lama lebih rendah dari pada perjanjian baru.
Jika dilihat secara kesuluruhan teks Ibrani 8:1-6 ini maka dapat diketahui bahwa pengarang memiliki kemampuan satra yang sangat bagus. Hal ini terlihat dari gaya pengarang mengungkapkan pikirannya lewat khotbah dengan bahasa-bahasa sastra yang begitu menarik. Oleh karena itu, membaca teks ini tidak boleh secara biasa-biasa saja tetapi lebih bersifat sastra. Pertanyaan-pertanyaan di atas merupakan contoh pertanyaan yang muncul dalam benak pembaca ketika membaca akan teks Ibrani 8:1-6 tersebut. Namun, pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak akan terselesaikan jika tidak mencoba untuk menafsirkan apa maksud dari pengarang surat Ibrani ini. Menafsirkan dalam hal ini tidak berarti menjadi yang paling tepat tetapi setidaknya berusaha menggapai apa yang diinginkan dan yang ingin disampaikan oleh pengarang saat itu dan saat sekarang.

Ada Apa Sebenarnya dengan Ibrani 8:1-6
Kitab Ibrani adalah sebuah khotbah yang menarik (untuk Kristen abad I) yang kemudian disebarkan dengan menggunakan pola sastra surat. Bentuk khotbah yang diungkapkan oleh si pengarang adalah berupa gagasan-gagasan khusus yang pada umumnya unik pada konteks Perjanjian Baru.
Ibrani 8:1-6 merupakan suatu khotbah yang tidak hanya berasal dari pemikiran pribadi pengarang tetapi juga dipengaruhi oleh alam pemikiran Plato.[5] Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa pengarang memiliki pengetahuan mengenai filsafat Yunani dan pengetahuannya itu digunakan untuk menggambarkan Yesus dengan menggabungkannya dengan filsafat Plato. Oleh karena itu, dalam melihat teks ini yang perlu dilakukan adalah penelaahan gaya bahasa penulis yang dilandasi oleh pemikiran Plato. Berikut merupakan tafsiran-tafsiran mengenai teks Ibrani 8:1-6.[6]
Ayat 1: “Dan hal yang sangat utama yang dibicarakan yaitu bahwa kita memiliki Imam Besar seperti itu, yang duduk di sebelah (dalam) kanan singgasana keagungan di surga.”
Dari teks di atas menjelaskan bahwa ada sesuatu yang dibicarakan sebelumnya mengenai sang Imam Besar. Tapi sebelumnya, patut dijelaskan terlebih dahulu arti dari Imam Besar. Dalam Yahudi Imam Besar merupakan Imam agung bangsa mereka yang berasal dari golongan aristokrat dan tugas utamanya adalah menjalankan peribadatan dan persembahan korban hatian dalam Bait Allah. Imam besar merupakan satu-satunya orang yang diperkenankan oleh Allah untuk masuk ke dalam ruang Maha Kudus sebagai tempat kehadiran Allah (tradisi Perjanjian Lama; Kel 28:29). Dalam dunia Perjanjian Lama, Imam Besar tidak terlalu banyak disebut secara tunggal tetapi lebih kepada imam seluruhnya. Selain itu, dalam tradisi Perjanjian Lama, imam-imam tersebut awalnya harus berasal dari keturunan Harun (putra Harun) dan yang menjadi pelayan yang membantu mereka adalah suku Lewi. Namun seiring berjalannya waktu (kitab Ulangan) tidak membuat perbedaan lagi antara Putra Harun dan orang-orang Lewi. Kedua-duanya disebut sebagai imam-imam. Oleh karena itu, imam-imam dalam tradisi Perjanjian Lama haruslah berasal dari putra Harun atau berasal dari suku Lewi. Namun, dalam dunia Perjanjian Baru pemisahan antara imam dan suku Lewi (orang Lewi) sangat dipertahankan. Hal ini terlihat dalam perumpamaan orang Samaria yang murah hati dalam Lukas 10:31,32; Yoh 1:19. Dalam kedua teks tersebut sangat ditonjolkan bahwa imam dan orang Lewi itu tidaklah sama. [7] Menurut Wellhausen (dalam Ensiklopedia) pembedaan tersebut adalah bermula dari tindakan nabi Yehezkiel yang melarang orang Lewi dalam tugas imamat (Yeh 44:6-16). Oleh karena itu, dalam teks ini (Ibrani 8:1), Yesus sebagai Imam Besar (ayat 3) diperbandingkan dengan Imam Besar dalam tradisi Perjanjian Lama. Hal ini terlihat dalam Ibrani 4: 14-5:10 dimana dijelaskan persamaan-persamaan dari Imam Besar Perjanjian Lama dan Yesus Imam Besar. Persamaan antara keduanya adalah bahwa keduanya ditetapkan untuk manusia dalam hubungannya dengan Allah dan oleh karena itu, tidak boleh meninggikan dirinya sendiri. Selain itu, imam harus mempersembahkan korban sebagai tanda penebusan dosa namun penebusan dosa di sini bukan hanya pada dosa umat tetapi dosa Imam Besar juga. (Vanhoye:1987,35) Sedangkan perbedaannya adalah bahwa Yesus sebagai Imam Besar merupakan anak Allah yang ikut merasakan kelemahan-kelemahan manusia, bersolidaritas dengan manusia-manusia sedangkan Imam Besar Yahudi tidaklah demikian. Penekanan dalam teks Ibrani 4:14-5:10 adalah mau menekankan kepada pendengar khotbah bahwa Yesus merupakan Imam Besar yang agung dan lebih tinggi dari Imam Besar dalam tradisi Perjanjian Lama. Jadi, Yesus sebagai Imam besar digambarkan sebagai pengantara antara Allah dan manusia yang harus mempersembahkan korban untuk Allah atas dosa manusia dan Dia (Yesus) sebagai Anak Allah harus bersolidaritas dengan manusia yang memiliki banyak kelemahan-kelemahan tersebut. Sehingga, inti berita yang dikatakan dalam 8:1 adalah terletak pada 4:14-5:10. Yesus yang menjadi Imam Besar duduk di sebelah kanan singgasana keagungan sorgawi merupakan suatu kalimat kiasan yang mau menekankan bahwa Yesus dan Allah adalah sangat dekat. Namun, akan sedikit membingungkan bagaimana menggambarkan akan singgasana atau takhta sorga tersebut. Apkah takhta sorga tersebut adalah sama seperti takhta kerajaan-kerajaan di bumi tidak dapat diketahui dengan pasti. Dalam Daniel 7:9-11 dijelaskan mengenai takhta-takhta yang diletakkan dan duduk terdapat majelis pengadilannya. Sepertinya gambaran yang diberikan oleh Daniel lebih dekat dengan gambaran yang dipahami dalam Perajanjian Baru di mana Yesus yang akan menjadi Anak Manusia dan memerintah serta menghakimi dari takhtaNya. Yesus di sebelah kanan takhta yang Maha besar di sorga menjadi bukti akhir akan kemuliaan Yesus.[8]
Ayat 2: “seorang pelayan yang kudus bahkan di kemah suci yang benar (sejati), dimana Tuhan yang membangunnya dan bukan manusia.”
Dalam ayat 2 ini sepertinya TB-LAI menerjemahkan secara keliru “τῶν ἁγίων λειτουργὸς καὶ τῆς σκηνῆς τῆς ἀληθινῆς.” TB-LAI menerjemahkan demikian teks tersebut “dan yang melayani ibadah di tempat kudus, yaitu di dalam kemah sejati” Dalam teksnya, tidak ada satu kata pun yang mengacu pada kata kerja, tetapi TB-LAI menerjemahkan dengan menggunakan kata kerja. Jika TB-LAI menerjemahkan demikian maka terkesan bahwa Yesus adalah pelayan biasa di kemah suci. Namun, pada teks aslinya menunjukkan bahwa Yesus itu adalah pelayan yang kudus yang melayani di kemah suci yang sejati. Jadi di dalam teks ini, Yesus tidak sama dengan Imam Besar lainnya karena Yesus itu adalah kudus dan tak berdosa. Ia dibuat berdosa oleh keberdosaan manusia. Yesus adalah pelayan ibadah merupakan tanda dan bukti pelayananNya. (Barclay,1957:93). Dalam tradisi Perjanjian Lama, kemah suci dibangun adalah sebagai tempat untuk Allah bagi bangsa Israel dan dapat dibawa ke mana-mana, dan menjadi tempat tinggal Allah di padang gurun.  Kemah suci yang sejati (benar) dalam ayat ini merupakan suatu pemikiran filsafati sang pengarang. Jika ada kemah suci yang sejati maka, terdapat kemah suci yang tidak sejati. Pemikiran ini didasarkan atas filsafat Plato mengenai dunia ide. Manusia tidak memiliki pengetahuan tentang kebenaran sejati lagi, yang kemudian dimiliki oleh manusia adalah sisa pengetahuan kebenaran.
            A (baik;sejati)
                                   Manusia (lupa)
           
                   B (Bayangan maya)
Manusia berasal dari alam atas dengan pengetahuan sejati mengenai kebenaran, lalu kemudian turun ke alam bawah dan terpenjara dalam materi. Manusia lupa akan kebenaran yang sejati dan yang dipunyainya hanyalah sisa pengetahuan saja, sehingga apa yang terjadi di alam bawah hanyalah bayangan yang maya.
Ayat 3: “setiap Imam Besar membawa pemberian dan suatu korban untuk dipersembahkan, sehingga keperluan apa yang dimiliki olehnya itu juga yang dibawanya
Teks TB-LAI sepertinya menerjemahkan serta menafsir akan ayat ini, dimana kata ganti orang ketiga dalam ayat ini ditafsirkan dengan menggunakan nama Yesus. Sepertinya penafsiran ini juga tepat karena pada 4:14 Imam Besar yang dimaksudkan telah disebut secara eksplisit. Jadi Imam Besar dalam teks ini boleh ditafsirkan sebagai Yesus. Dalam tradisi Perjanjian Lama, seorang Imam Besar harus mempersembahkan korban kepada Allah sebagai tanda penebusan dosa umat Allah dan juga dosa Imam Besar itu sendiri. Selain itu, korban sebagai persembahan agar dunia bisa berlanjut seperti biasanya, supaya matahari terbit di Timur dan terbenam di sebelah Barat. Dalam hal penebusan dosa korban yang dibawa adalah bergantung pada bentuk kesalahan dan dari kelas mana orang yang melakukan kesalahan tersebut. Dalam Imamat 4-5:13, korban yang harus dipersembahkan adalah lembu jantan muda, domba jantan, kambing jantan dan betina dan anak domba. Namun, pada ayat ini Yesus tidak mempersembahkan korban seperti yang biasa dilakukan oleh Imam Besar. Pengorbanan yang dilakukan Yesus adalah mengorbankan dirinya sendiri sebagai tanda penebusan dosa umat manusia dan diriNya sendiri yang walaupun ia tidak berdosa karena ia adalah kudus.
Ayat 4: “Andaikata, ia berada di dunia ini, ia tidak akan menjadi imam,karena telah ada yang membawa persembahan berdasarkan Taurat.”
Pengarang menempatkan Yesus  bukan di dalam dunia ini tetapi di luar dari dunia ini. Pengarang tidak berniat dan berharap agar Yesus menjadi imam di dunia ini. Dalam hal ini, terdapat konsistensi dari pengarang sendiri terhadap argumen-argumen yang telah dikemukakannya. Jika ia mengatakan agar Yesus menjadi imam di dunia ini, maka itu akan bentrok dengan pendapatnya sendiri di mana imam di dunia ini merupakan imam yang tidak sejati dan merupakan bayangan dari imam yang sejati yang ada di dalam surga, dan imam itu adalah Yesus. Jika pengarang menganggap bahwa Yesus adalah imam bumi dan dunia maka akan terjadi dualisme dalam pribadi Yesus, yaitu sebagai yang sejati dan juga sebagai yang maya. Pengarang juga memberi alasan Yesus tidak menjadi imam di dunia karena telah ada yang mempersembahkan kurban di Bait Allah berdasarkan Taurat. Pengarang dalam khotbahnya seperti menganggap bahwa persembahan yang dilakukan oleh imam-imam adalah sesuatu yang salah. Namun sebenarnya, imam-imam tersebut (Yahudi) mengikuti akan tradisi yang telah mereka  dapatkan dari tradisi-tardisi yang telah diwariskan melalui Taurat dan yang terdapat dalam kitab mereka, yaitu Talmud.
Ayat 5: “bagaimanapun, pelayanan itu merupakan salinan dan bayangan dari surga, seperti instruksi kepada Musa mengenai pembangunan kemah suci; Ingat, katakan demikian, buatlah semuanya berdasarkan petunjuk yang telah diberikan kepadamu di atas gunung.”
Jika dilihat secara pintas, ayat ini sepertinya menghargai akan apa yang ada di dunia ini karena merupakan bayangan dari yang ada di surga. Sama seperti manusia yang selalu membanggakan diri sebagai makhluk yang paling berharga dari makhluk-makhluk lain karena secitra dengan Allah. Namun jika dilihat dari sudut lain, maka hal tersebut tidaklah demikian. Ayat ini memunculkan lagi pemikiran filsafati dari Plato mengenai dunia ide teori dua dunia. Bagi Plato, dunia dibagi atas dua yaitu dunia yang mencakup benda-benda jasmani yang dapat diinderai dan dunia realitas di mana ide-ide berasal. Dunia ide merupakan asal dari dunia di mana benda-benda dapat diinderai. Oleh karena itu, maka setiap orang harus melepaskan diri dari kungkungan dunia maya agar dapat mencapai akan dunia ide tersebut. Dunia ide merupakan dunia yang sempurna dibandingkan dengan dunia saat ini. Dalam ayat ini, pengarang mau menjelaskan bahwa Bait allah duniawi adalah tiruan dari Bait Allah yang sesungguhnya; ibadah duniawi merupakan gambran dari ibadah yang nyata, dan demikian pula dengan pelayan-pelayannya. Pengarang menemukan ide atau gagasan ini dalam tradisi perjanjian Lama juga. Di mana Allah telah memerintahkan Musa untuk mengikuti pola yang nyata dan sejati di atas gunung untuk mendirikan kemah suci. Mengenai salinan dan bayangan, berasal dari dua kata Yunani, salinan dari kata hupodeigma dan bayangan dari kata skia. Imam Besar duniawi tidak dapat memberikan keselamtan kepada manusia karena ia pun masih berada dalam kungkungan materi. Yang dapat memberikan keselamtan bagi umat manusia hanyalah Yesus sebagai Imam besar yang sejati. Dalam dunia ini, tidak ada satu pun yang sempurna dan manusia sulit untuk menggapai akan kesempurnaan itu. yang harus dilakukan manusia agar bisa menggapai akan kesempurnaan itu, yaitu mengikuti Yesus karena hanya Yesuslah yang mampu membawa manusia keluar dari kungkungan materi menuju kepada kelepasan.[9] Alam atas merupakan kematian Kristus, tetapi bukan tempat di mana kristus mati yang menjadi hal penting melainkan nilai sejati yang dikandung dari kematianNya. Keselamtan bagi orang Kristen bukan hanya pada roh saja tetapi seluruh aspek manusia, yaitu hidup baru.
Ayat 6: “tetapi sekarang pelayanan yang terjadi berbeda, sama besar dan agungnya, ia menjadi pengantara perjanjiannya, berdasarkan atas suatu janji untuk membuat aturan yang agung.”
Seperti yang telah dikatakan diatas bahwa dunia ini adalah dunia yang semu/maya, maka manusia diharuskan untuk melepaskan diri dari kungkungan materi dengan jalan ‘memilih’ Yesus sebagai penuntunnya keluar dari keadaan dunia ini yang penuh dengan “kefrustasian”. Yesus menjadi perantara manusia untuk bertemu dengan yang sejati dari segala-galanya, yaitu Allah. Tujuan dari manusia adalah hidup bersekutu dengan Allah. Yesus menjadi perantara perjanjian antara Allah dan manusia dan menjadi pembaharu akan hukum-hukum yang telah ada yang merupakan bayangan dari hukum yang sejati.[10] Pengantara (mesites) berasal dari kata mesos yang berarti di tengah-tengah, menjadi penengah di antara dua kubu yang bertikai. Yesus menjadi penengah diantara Allah dengan manusia. Menjadi pendamai antara Allah dengan manusia. Namun penegah di sini tidak hanya berati demikian tetapi Ia juga menjadi penjamin bagi manusia dalam hubungannya dengan Allah. Ia menjadi pembuka jalan ke kenyataan yang sejati, menuju Allah. Namun, pemikiran pengarang dalam khotbah ini sepertinya menghancurkan kubu yang satunya lagi. pengarang menggunakan pemikiran filsafatnya dengan menghancurkan akan ibadat yang biasa berlangsung dalam umat Yahudi. Namun, mungkin di sini dipahami bahwa pengarang berbuat demikian karena memiliki maksud dan tujuan tersendiri yaitu maksud penginjilan. Dengan cara demikian maka penginjil dapat menarik perhatian dari agama-agama tertentu dan kemudian membuat mereka meninggalkan agama mereka dan berbalik menuju agama yang lain.

Refleksi: Melepaskan Diri dari Kungkungan Materi à Kebahagiaan
Kitab Ibrani adalah salah satu khotbah yang baik terkhususnya pada Kristen abad I. Kitab ini (khususnya teks Ibrani 8:1-6) mengajarkan bagaimana mencari dan menggapai suatu kedamaian yang sejati, bagaimana melepaskan diri dari dunia yang penuh dengan berbagai masalah. Pengarang mengajak para pendengar agar melepaskan diri dari dunia maya ini menuju suatu realitas yang tunggal dan sejati. Memang manusia dianjurkan untuk mengikuti Yesus sebagai penuntun yang sejati tetapi manusia hidup di dalam dunia ini yang memang sudah kacau dan akan sulit untuk mengubahnya. Menyadari pula bahwa manusia adalah makhluk yang tidak sempurna maka akan sulit untuk menjadi sempurna. Manusia hanya bisa berjalan dari hitam menuju yang putih tetapi tidak akan sampai pada yang putih.
Hitam                                      Putih
                Abu-abu
Manusia hanya bisa bergerak ke yang putih dan akan berhenti pada yang abu-abu karena manusia tidak dapat mencapai yang putih. yang paling oenting adalah proses manusia dalam menuju ke arah yang putih. contoh yang baik adalah mengenai perjamuan kudus (ἀνάμνησις). ἀνάμνησις  berarti mengingat ke atas. Dengan mengingat ke atas ini membuat kita mengerti dengan baik apa yang benar (makna sejati) dari peristiwa yang dihayati dan melakukan apa yang benar tersebut. memahami persis kebenaran tersebut dan menghadirkannya dalam dunia nyata. Jika kita bisa lepas dari kungkungan materi, alam duniawi maka kita bisa naik ke alam atas. Namun untuk bisa naik ke alam tersebut, kita membutuhkan waktu 10.000 tahun. Untuk kembali naik ke atas pun dibutuhkan usaha yang keras dan jika berhasil maka hal itu merupakan hal yang sangat baik. Tetapi bila itu tidak dilakukan maka “mengingat” sedikit juga baik. Jadi, “mengingat” di sini berbeda dengan mengingat yang terdapat dalam bahasa Indonesia. Seringkali dalam kehidupan saat ini, semua orang menuntut akan kesempurnaan, namun kesempurnaan itu sangat sulit di dapatkan. Manusia menuntut akan kesempurnaan karena ketidakpuasaan terhadap apa yang ada. Memang dalam tradisi Perjanjian Baru, agama Kristen menghalalkan akan keinginan, namun yang bersifat rohani. Keinginan jasmani merupakan keinginan-keinginan yang menghambat akan pertumbuhan rohani. Keinginginan rohanilah yang membawa kepada pembebasan. Namun, sesekali juga, manusia  (orang Kristen) perlu melihat tradisi Perjanjian Lama terkhususnya pada Dasa Titah yang ke-10, yaitu jangan mengingini. Dalam tradisi protestan, jangan mengingini ini ditafsir menjadi jangan mencuri, dalam artian boleh mengingini tetapi jangan sampai mencuri. Dalam teks aslinya memaksudkan agar tidak mempunyai keinginan sama sekali. Pendapat ini mirip dalam tradisi Budhisme di mana orang diharapkan agar jangan mengingini apapun agar mendapat ketenangan jiwa.[11] Ketika muncul keinginan dalam diri manusia, maka akan muncul keinginan-keinginan yang lain. Kungkungan materi yang mengikat manusia membuat manusia menjadi hidup dalam materi. Manusia sangat sulit untuk melepaskan diri dari materi karena manusia telah terjebak dalam suatu realitas palsu. Manusia belum berani untuk beranjak dan keluar dari materi yang mengungkungnya yang membawanya hanya pada kesenangan belaka dan bukan pada kebahagiaan. Kesenangan hanyalah sesaat. Kesenangan menimbulkan munculnya keinginan-keinganan lainnya.  Kebahagiaanlah yang harus menjadi fokus utama dari manusia karena kebahagiaan akan mendatangkan sukacita yang begitu besar dan manusia sedapat mungkin akan meminimalisir keinginan-keinginan yang ada dalam dirinya sehingga dengan demikian ia pun dapat sedikit demi sedikit melepaskan diri dari kungkungan materi yang menjarah hidupnya. Hal yang paling penting adalah menjalani proses tersebut dari yang hitam ke arah yang putih yang walaupun hanya sebatas abu-abu saja.


Daftar Pustaka

Marxsen, Willi.
1968    Introduction to the New Testament. Philadelphia: Fortress Press

Vanhoye, Albert.
1987    Kristus Imam Kita (Menurut Surat Kepada Orang Ibrani). Yogyakarta: Kanisius

Guthrie, Donald dkk.
1981    Tafsiran alkitab Masa Kini 3, Matius-Wahyu. Jakarta: BPK Gunung Mulia

1997    Ensiklopedia Alkitab Masa Kini Jilid 1. Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih

Barclay, William.
1957    The Letter to Hebrews. Philadelphia: The Westminster Press

Catatan kuliah pada mata kuliah Pengantar Hermeneutik Perjanjian Baru

Catatan kuliah pada mata kuliah Pokok-Pokok Filsafat Timur


[1] Willi Marxsen, Introduction to the New Testament (Philadelphia: Fortress Press ,1968 )p. 217
[2] Albert Vanhoye, Kristus Imam Kita (Menurut Surat Kepada Orang Ibrani) (Yogyakarta: Kanisius, 1987)p. 13
[3] Donald Guthrie,dkk, Tafsiran alkitab Masa Kini 3, Matius-Wahyu (Jakarta: BPK Gunung Mulia,1981)p. 754
[4] p. 15
[5] Penjelasan mengenai kitab Ibrani dalam kuliah Pengantar Hermeneutik Perjanjian Baru.
[6] Teks Yunani saya terjemahkan sendiri ke Indonesia.
[7] Ensiklopedia Alkitab Masa Kini Jilid 1 (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 1997)pp. 423-425
[8] William Barclay, The Letter to Hebrews (Philadelphia: The Westminster Press,1957).p 93
[9] Barclay, Hebrew, p. 96
[10] Barclay, Hebrew, p. 97
[11] Materi kuliah dalam mata kuliah Pokok-Pokok Filsafat Timur

KOSMOMONISME JAWA



Alam Semesta Sebagai Suatu Realitas Tunggal dalam Hubungannya dengan Konsep Takdir
Pendahuluan
            Orang Jawa memiliki begitu banyak pandangan mengenai etika kehidupan dalam keseharian mereka. Pandangan-pandangan tersebut antara lain mengenai hubungan dengan yang dipercayai, antara manusia dengan alam semesta dan mengenai hubungan antar manusia itu sendiri. Orang Jawa percaya kepada kekuatan-kekuatan roh-roh (animisme) dan kekuatan daya-daya (dinamisme) yang ada di sekitar mereka. Animisme dan dinamisme ini menjadi seperti suatu kepercayaan dalam diri orang Jawa. Namun pada praktek “penyembahan” kedua jenis kepercayaan ini tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain.[1] Misalnya, suatu pohon yang dipercayai memiliki daya kekuatan yang magis dipercayai juga memiliki ‘penunggu’ (roh-roh). Sehingga orang Jawa menjadi penganut animodinamisme sebagai gabungan antara animisme dan dinamisme. Namun, walaupun orang Jawa percaya kepada kekuatan atau daya-daya di luar dirinya dan juga kepada roh-roh, namun orang Jawa mempercayai bahwa hanya ada satu realitas dalam alam ini yaitu alam semesta itu sendiri. Kepercayaan kepada alam semesta yang dianggap sebagai suatu realitas tunggal inilah yang disebut dengan kosmomonisme. Paham kosmomonisme adalah bahwa ada satu rangkaian alam semesta yang berputar secara teratur dan terus menerus. Setiap hal telah memiliki tempat dan kedudukannya masing. Namun, paham tentang kosmomonisme ini tidak berarti sama dengan paham tentang Allah karena pemahaman tentang kosmomonisme tidak dapat disamakan dengan pemahaman tentang Allah yang walaupun kosmomonisme ini memiliki watak dan tata tertib yang bersifat ilahi. Dari konsep mengenai kosmomonisme ini, memunculkan paham mengenai takdir. Konsep atau paham tentang takdir inilah yang akan saya bahas dalam paper ini beserta tanggapan saya mengenai paham tentang takdir ini.
Konsep Takdir dalam Kehidupan Orang Jawa
            Konsep tentang takdir dalam kehidupan orang Jawa mirip dengan konsep predestinasi di dalam kekristenan. Predestinasi dalam kekristenan adalah suatu doktrin.  Secara sederhana, predestinasi dapat dipahami sebagai suatu pemikiran yang mempercayai bahwa Tuhan telah menentukan dan memilih orang yang akan diselamatkan dan biasanya pemilihan ini telah ditentukan oleh Tuhan sebelum dunia dijadikan. Dalam tradisi orang Jawa, takdir adalah sikap hidup yang mempercayai bahwa segala sesuatu di dunia ini telah ditentukan terlebih dahulu baik waktu maupun tempatnya. Semua hal dalam dunia ini telah diatur oleh alam semesta, manusia dituntut untuk mengikuti apa yang telah ditetapkan kepadanya, apa yang telah dan akan menjadi bagiannya telah ditentukan oleh alam semesta. Paham tentang takdir ini bersumber pada kosmomonisme. Manusia harus menjalani harmonika alam semesta yang telah ditetapkan itu, baik dalam kehidupannya sendiri sebagai suatu individual maupun dalam hubunganya dengan dunia luar. Dalam aturan harmoni ini, manusia diharapkan untuk tidak mendahulukan ambisi dan nafsunya sendiri tetapi lebih mengutamakan akan kepentingan kelompok (keharmonisan publik).[2] Jika manusia mendahulukan keinginnya dan ini berakibat pada ketidakharmonisan alam ini, maka manusia tersebut dianggap berdosa karena telah melanggar tata tertib alam semesta ini. Jika dalam kekristenan, konsep dosa adalah melanggar atau melakukan sesuatu yang tidak berkenan dihadapan Allah, maka dalam tradisi Jawa, berdosa adalah tidak mengikuti ketetapan-ketetapan alam semesta ini.
Dari paham tentang kosmomonisme tersebut dipercayai bahwa alam semesta ini sebagai ‘jagad gedhe’ (makrokosmos) adalah bagaikan sebuah roda yang berputar terus menerus (cakra manggilingan sewu). Bagaikan musim yang berputar secara terus menerus, datang silih berganti, demikian halnya pula dengan alam semesta ini. Semuanya telah diatur secara harmoni. Manusia pun sebagai ‘jagad cilik’ (mikrokosmos) memiliki kehidupan yang selalu berputar terus menerus, kadang di atas dan kadang di bawah (cakra manggilingan urip). ‘jagad cilik’ merupakan paradigma dari ‘jagad gedhe’.[3] Dari pemahaman tentang cakra manggilingan sewu dan cakra manggilingan urip ini yang memunculkan suatu prinsip kebahagian dan prinsi kebajikan bagi orang Jawa, yaitu Nrimo. Paham tentang Nrimo terwujud dalam ungkapan nrimo ing pandum dimana masyarakat Jawa diwajibkan untuk menerima apa yang telah menjadi bagiannya, agar tidak menyalahi aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh alam semesta ini. Menerima menjadi pusaka akhir dari orang jawa dalam hubungannya dengan keinginan. Jika sesorang menginginkan sesuatu dan telah berusaha dan juga tetap tidak endapatkan apa-apa, maka Yang diharapkan dan dibutuhkan adalah menerima akan hal tersebut dan memaknainya. Segala hal yang terjadi di dalam dirinya maupun di luar dirinya, haruslah diterima sebagai bagian dari tata tertib alam semesta. Dengan mengikuti akan tatanan tersebut, maka manusia ikut menjaga akan keharmonisan yang telah diciptakan oleh alam semesta itu sendiri. Oleh karena itu, orang Jawa diajarkan agar tidak mudah terkejut jika secara tiba-tiba kehidupannya berubah, misalnya yang awalnya berada di bawah kemudian berada di atas dan begitu pula sebaliknya (aja kagetan). Selain itu, orang Jawa diharapkan untuk tidak mendahului akan kodrat alam atau apa yang telah digariskan padanya (aja  nggege mangsa) karena itu berarti bahwa manusia tersebut telah melanggar tata tertib alam semesta ini dan ini akan berakibat pada ketidakharmonisan alam semesta. Alam semesta tidak akan berjalan dengan seimbang. Oleh karena itu, tiga sikap yang harus dimiliki oleh orang Jawa adalah ikhlas, sabar dan menerima. Dengan jalan tersebut, maka orang Jawa dapat memaknai akan segala hal yang terjadi dalam hidupnya. Ikhlas, sabar dan menerima merupakan satu-satunya cara untuk memahami kehidupan dan memperoleh akan kebahagian dalam diri manusia itu sendiri.[4] Kepercayaan kepada takdir tersebut jugalah yang membawa orang Jawa dalam stratifikasi status sosial dalam masyarakat yang terungkap dalam unggah-ungguhin basa (tiga lapisan pokok bahasa: ngoko, madya, krama).[5] Masyarakat Jawa diharuskan untuk menerima akan stratifikasi tersebut dan harus mengetahui tempat di mana ia harus ‘duduk’ dan ‘berdiri’.
Tanggapan terhadap konsep takdir dalam tradisi Jawa
a.      Persetujuan
            Konsep percaya kepada takdir dalam tradisi Jawa pada hakikatnya adalah baik. Di mana masyarakat Jawa diajarkan untuk dapat menerima akan segala hal yang terjadi dalam hidupnya. Masyarakat Jawa diharapkan untuk selalu dapat mengikuti akan ketetapan-ketetapan yang telah ada di dalam alam semesta ini. Sikap nrima yang diajarkan dalam tradisi Jawa sangatlah baik. Orang-orang kadang tidak dapat menerima apa yang telah terjadi dalam hidupnya. Misalnya, seorang pengusaha yang kaya raya dan kemudian menjadi jatuh miskin karena usahanya bangkrut. Jika ia tidak memiliki sikap menerima dan memaknai akan apa yang telah terjadi dalam hidupnya tersebut, maka orang tersebut akan selalu mempertanyakan hal tersebut dan menyebabkan tidak adanya ketenangan dalam jiwanya. Ia akan sulit untuk memperoleh akan kedamaian terutama dalam hal perasaan yang menjadi tujuan hidup semua orang.[6] Oleh karena itu, sikap yang sangat diharapkan dalam diri manusia adalah untuk selalu bersikap ikhlas, sabar dan menerima akan semua hal yang terjadi pada dirinya. Terkadang juga, manusia sering tidak puas dengan apa yang telah ada padanya dan membuatnya mencari kambing hitam dari semua yang terjadi padanya. Seorang gadis yang memiliki hidung yang pesek dan tidak dapat menerima akan keberadaannya tersebut akan selalu mempersalahkan dirinya sendiri mengapa ia tidak memiliki hidung yang mancung yang menjadi idaman semua gadis. Terkadang ia akan menyalahkan kedua orangtuanya yang menjadi sumber gen tersebut. dalam keadaan tersebut, maka sikap yang sangat diharapkan adalah menerima akan keberadaan dirinya sebagai seorang gadis yang berhidung pesek dan dengan demikian ia akan dapat memaknai akan semua hal yang terjadi dalam dirinya. Dengan sikap menerima ini juga yang akan membawa orang untuk memiliki sikap puas terhadap apa yang sudah ada. Manusia susah menerima akan kenyataan yang terjadi karena merasa tidak puas dengan hal-hal yang telah ia dapatkan dan membuat munculnya keinginan-keinginan yang baru yang malah mebuatnya menderita. Dalam Budhisme, keinginan-keinginan hidup yang berkaitan dengan nafsu merupakan sumber penderitaan yang paling utama dalam diri manusia.[7] Ketika apa yang diinginkan tidak terkabul, maka manusia akan merasa sakit dan ini akan menyebabkan penderitaan pada dirinya sendiri dan mungkin bisa berimbas kepada diri orang lain. Sikap yang diperlukan adalah sikap untuk nrimo hal-hal yang telah terjadi. Memang sulit untuk dapat menerima semua hal yang terjadi dalam diri manusia, apalagi jika hal itu merupakan hal yang pahit. Namun, jika tetap ‘mempertahankan’ akan kepahitan itu, maka yang menderita adalah diri kita sendiri. Orang lain hanya dapat memberikan solusi pada diri kita namun semua bergantung pada tindakan kita sendiri. Mau melepaskan kepahitan tersebut atau setia memeliharanya. Ada banyak hal yang dapat dikontrol oleh diri sendiri dan ada yang tidak dapat dikontrol. Hal-hal yang tidak dapat dikontrol antara lain adalah kesalahan yang telah lewat, orang tua, warna kulit dan lain-lain sedangkan hal-hal yang dapat dikontrol adalah pilihan, respon, dan sikap dari diri kita.[8] Segala hal yang telah terjadi dalam hidup kita memang tidak dapat dikontrol karena itu sudah berlalu. Namun sikap kita selanjutnya dengan kejadian yang telah menimpa diri kita yang masih dapat kita kontrol adalah penentunya.

b.      Kritik
Konsep tentang takdir ini memang mengajarkan orang untuk menerima akan segala hal yang terjadi dalam hidupnya, entah itu baik maupun yang buruk. Namun, konsep ini membawa orang kepada sikap fatalistik, di mana semua hal dianggap telah ditakdirkan oleh yang ilahi.[9] Konsep ini menghantarkan orang untuk tidak berusaha dalam hidupnya karena semua telah digariskan oleh yang ilahi. Ketika manusia menginginkan sesuatu, misalnya kehidupan yang layak semuanya mereka gantungkan pada takdir dan tidak ada usaha untuk memperoleh akan kehidupan yang layak tersebut.  ketika semua yang terjadi adalah takdir maka watak manusia pada hakikatnya tidak dapat diubah. Manusia yang jahat, yah dibiarkan jahat karena ia telah ditakdirkan untuk menjadi yang jahat oleh yang ilahi. Hidup yang dijalani menjadi hidup yang monoton tidak ada suatu usaha untuk membuat hidup ini menjadi dinamis karena semua diserahkan kepada takdir. Selain itu, karena semua hal diserahkan kepada takdir, orang menjadi bingung untuk melangkah, yang manakah yang menjadi takdirnya. Ketika seseorang ingin menjadi seorang guru, ia akan kebingungan apakah takdirnya adalah menjadi seorang guru atau tidak. Jika ia memaksakan kehendaknya untuk menjadi guru, kemungkinan itu bisa merupakan takdirnya atau malah ia sedang melawan kodrat alam. Mungkin hal-hal inilah yang harus diperhatikan oleh orang Jawa saat ini, bahwa semua hal itu tidak bergantung pada takdir tetapi kepada kemauan. Namun kemauan ini janganlah bersifat untuk kepentingan diri sendiri saja tetapi juga tidak merugikan orang lain dan juga alam semesta.
Selain itu, sikap nrima dalam tradisi Jawa juga perlu ditelaah kembali oleh orang Jawa. Dengan sikap nrima ini, orang Jawa seringkali tidak mengungkapkan akan perasaan yang ia sedang rasakan. Menutupi akan perasaan yang ada, bagi mereka adalah suatu sikap untuk memperoleh akan kedamaian jiwa dan menghindari akan suatu pertengkaran. Namun sebenarnya, dengan sikap nrima tersebut malah membuat batinnya tersiksa. Misalnya saja seseorang yang ingin marah, karena perasaan itu tidak boleh diungkapkan malah akan membuatnya tersiksa. Jika marahnya hanya sekali saja ditekan maka tidak akan terlalu berpengaruh pada kondisi tubuh karena hormon adrenalin menetralkan kembali akan emosi tersebut. namun, jika kemarahan itu berlebihan dan mamaksa diri untuk meredam akan emosi tersebut, maka seseorang dapat terkena serangan jantung karena membutuhkan adrenalin yang banyak untuk menetralkan emosi tersebut . Demikian pula dengan perasaan gembira. Jika perasaan tersebut ditekan maka akan menimbulkan penyakit psikosomatis.[10] Sikap nrima ini seharusnya ditelaah lebih lanjut lagi. Paham tentang nrima seharusnya dipraktekkan pada suatu kenyataan yang telah terjadi. Namun menerima disini tidak berarti pasif tetapi menerima yang bersifat aktif. Menerima tidak boleh dihubungkan dengan perasaan karena setiap perasaan yang dirasakan oleh manusia haruslah diungkapakan agar mencapai akan ketenagan batin. Namun, pengungkapan perasaan tersebut bukanlah yang membabi buta. Emosi memang harus diakui dan dihargai tetapi juga emosi harus ditempatkan sistem nilai-nilai yang ada.
Penutup
            Seringkali dalam kehidupan ini, orang selalu memutlakan setiap hal yang ia percayai tanpa berusaha mengkaji lagi akan apa yang telah ia percayai. Suatu kepercayaan seharusnya bisa terbuka dengan hal-hal lain. Selain itu, suatu kepercayaan juga tidak boleh merugikan akan salah satu pihak, baik itu manusia itu sendiri, maupun sesuatu yang diluar dari diri manusia. Suatu kepercayaan seharusnya harus selalu dikaji lagi. jika memang terdapat sesuatu yang salah, maka tidak ada salahnya mengubah yang salah itu dan membuatnya menjadi sempurna seperti yang diharapkan. Keterbukaan (yang bertanggung jawab) merupakan hal yang sangat penting dalam mencapai akan keharmonisan di dalam dunia ini. Siap menerima kritikan dan masukan juga harus diperhatikan agar tercipta akan kedamaian dalam batin manusia itu sendiri. Setiap hal pasti memiliki cacatnya sendiri namun kecacatan tersebut bukanlah menjadi suatu yang buruk tetapi yang paling penting adalah mengubah yang cacat tersebut untuk menjadi baik.







Daftar Pustaka
Covey, Sean.
1998    The Seven Habits of Highly Effective Teens. New York: Fireside.

Diktat Etika Jawa mengenai ‘Esensi Terdalam dalam Religiositad Orang Jawa’.

Diktat Etika Jawa mengenai ‘Takdir’

Geertz, Clifford.
1983    Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa. Jakarta: Pustaka Jaya.

Hadiwijono, Harun.
1989    Sari Filsafat India. Jakarta: BPK Gunung Mulia.

Hartono, F.
1987    Iman dan Perasaan. Yogyakarta: Kanisius.
Mulder, Niels.
1978    Mysticsm and Everyday life in Contemporary Jawa. Singapore: Singapore University Press.

Sanjiwani, Riyanto.
1993    “Mistik Jawa Kontemporer” dalam Jelajah Hakikat Pemikiran Timur. Jakarta: Gramedia.


[1] Diktat Etika Jawa mengenai ‘Esensi Terdalam dalam Religiositad Orang Jawa’.
[2] Niels Mulder, Mysticsm and Everyday life in Contemporary Jawa (Singapore: Singapore University Press, 1978)p.  38
[3] Riyanto Sanjiwani, “Mistik Jawa Kontemporer” dalam Jelajah Hakikat Pemikiran Timur (Jakarta: Gramedia, 1993)p. 126
[4] Clifford Geertz, Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa (Jakarta: Pustaka Jaya, 1983)pp. 323-325
[5] Diktat Etika Jawa mengenai ‘Takdir’
[6] Geertz, Abangan,... p. 325
[7] Harun Hadiwijono, Sari Filsafat India (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1989)p. 32
[8] Sean Covey, The Seven Habits of Highly Effective Teens (New York: Fireside, 1998)p. 55
[9] Penjelasan mengenai konsep ‘Takdir’ dalam kuliah Etika Jawa
[10] F. Hartono, Iman dan Perasaan (Yogyakarta: Kanisius, 1987)p. 18